SISTEM BILANGAN DESIMAL DAN SISTEM BILANGAN BINER
Dalam kehidupan sehari-hari,
kita biasanya menggunakan sistem bilangan berbasis radix 10 atau disebut sistem
bilangan desimal. Sistem bilangan desimal memiliki nilai 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8, dan 9 dengan radix 10. Misal nilai desimal 2016, terdiri dari 2 ribuan, 0
ratusan, 1 puluhan dan 6 satuan. Sedangkan, untuk komputer dan perangkat
elektronik lainnya menggunakan sistem bilangan biner atau sistem bilangan
berbasis dua. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh
Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar
dari semua sistem bilangan berbasis digital. Sistem bilangan biner adalah
sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1
dimana nilai 0 dan 1 mempresentasikan level tegangan ‘on dan off’,’high dan low’,
atau ‘ hidup dan mati’. Penulisan
bilangan biner biasanya diakhiri dengan simbol “2”. Contohnya 10011012.
Perhitungan dalam biner mirip dengan menghitung
dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka pertama, dan angka
selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan menggunakan angka 0 hingga 9, sedangkan dalam biner
hanya menggunakan angka 0 dan 1.
MENGKONVERSI BILANGAN DESIMAL MENJADI BILANGAN
BINER
Contohnya, kita akan
mengkonversikan bilangan 45 ke dalam bentuk biner, maka caranya
45 dibagi 2 = 22 sisa 1
22 dibagi 2 = 11 sisa 0
11 dibagi 2 = 5 sisa 1
5 dibagi 2 = 2 sisa 1
2 dibagi 2 = 1 sisa 0
1 dibagi 2 = 0 sisa 1
Selanjutnya, tuliskan sisa
pembagian dari yang paling akhir. Maka bentuk biner dari bilangan 45 adalah
1011012.
MENGKONVERSI BILANGAN BINER MENJADI BILANGAN
DESIMAL
Contohnya, kita akan
mengkonversi nilai 1011012 ke dalam
bentuk desimal, maka caranya
Kalikan bilangan biner dengan
20 ,21, 22, dan seterusnya dimulai dari yang
paling kanan
1011012 = 1x20 + 0x21
+ 1x22 + 1x23 + 0x24 + 1x25
= 1x1 + 0x2 + 1x4 + 1x8 + 0x16 + 1x32
= 1 + 0 + 4 + 8 + 0 + 32
= 45
Maka, bentuk desimal dari 1011012 adalah 45.
SISTEM BILANGAN OKTAL DAN HEKSADESIMAL
Selain sistem bilangan biner dan
desimal, dikenal pula sistem bilangan lainnya seperti sistem bilangan oktal
(radix 8) dan juga heksadesimal (radix 16). Nilai oktal adalah 0,1,2,3,4,5,6,
dan 7 dengan radix 8. Sedangkan sistem bilangan heksadesimal terdiri dari 16
anggota, yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,danF. Nilai A,B,C,D,E,danF
masing-masing mempresentasikan nilai lebih dari 9 yaitu 10,11,12,13,14,dan 15.
Penulisan bilangan oktal biasanya diakhiri dengan simbol “8” dan penulisan Heksadesimal
biasanya diakhiri dengan simbol “16” atau “H”.
MENGKONVERSI BILANGAN BINER MENJADI BILANGAN OKTAL
Contohnya, kita akan
mengkonversi nilai 1011012 ke dalam bentuk oktal, maka
caranya
Pertama, kelompokkan bilangan
biner kedalam 3 bagian dihitung dari yang paling kanan
= 101 101
Kemudian lakukan
langkah-langkah mengubah bilangan biner ke dalam bentuk desimal pada
masing-masing bagian
= 1 0 1 1
0 1
(1x22 + 0x21
+ 1x20 ) (1x22
+ 0x21 + 1x20)
= 4+1
4+1
= 5 5
= 55
Maka nilai dari 1011012 adalah 558.
MENGKONVERSI BILANGAN OKTAL MENJADI BILANGAN
DESIMAL
Contohnya, kita akan
mengkonversikan nilai 3328 kedalam bentuk desimal, maka
caranya
Kalikan bilangan oktal dengan
80, 81, 82, dan seterusnya dimulai dari yang
paling kanan
= 3 3 2
3x82 3x81 2x80
= 192 + 24 + 2
= 218
MENGKONVERSI BILANGAN BINER MENJADI BILANGAN
HEKSADESIMAL
Contohnya kita akan
menkonversi nilai 111110102 ke dalam bentuk heksadesimal,
maka caranya
Pertama, kelompokkan bilangan
biner ke dalam 4 bagian dihiting dari yang paling kanan
= 1111 1010
Kemudian lakukan
langkah-langkah mengubah bilangan biner ke dalam bentuk desimal pada
masing-masing bagian
= 1 1 1 1 1
0 1 0
(1x23 + 1x22 +
1x21 + 1x20) (1x23
+ 0x22 + 1x21 + 0x20)
= 8+4+2+1 8+0+2+0
= 15 10
= F A
= FA
Maka nilai dari 111110102 adalah FAH
MENGKONVERSI BILANGAN HEKSADESIMAL MENJADI BILANGAN
DESIMAL
Contohnya, kita akan
mengkonversi nilai 3FH ke dalam bentuk desimal, maka caranya adalah
Pertama ubah bilangan
heksadesimal yang berupa huruf ke nilai biasa
= 3 F
3 15
Kalikan bilangan heksadesimal
dengan 160, 161, 162, dan seterusnya dimulai
dari yang palig kanan.
= 3x161 + 15x160
= 48 + 15
= 63
Maka, nilai dari 3FH adalah 63
OPERASI HITUNG DALAM SISTEM BILANGAN
A.
PENJUMLAHAN
1.
Penjumlahan Bilangan Biner
Dalam penjumlahan biner, menggunakan cara yang sama dengan penjumlahan
desimal biasa yaitu dimulai dari bit yang paling kanan dengan aturan sebagai
berikut:
1.
Apabila hasilnya 1, maka hasilnya 1 ditulis di
bawah.
2.
Apabila hasilnya 2 maka hasilnya 0 ditulis dibawah
dan bit di kirinya ditambah 1.
3.
Apabila hasilnya lebih dari dua, maka hasilnya
dikurangi 2 dan hasilnya ditulis dibawah dan sisanya ditambahkan ke bit yang di
kirinya.
Dengan kata lain, jika hasil penjumlahannya ganjil
maka hasil yang ditulis adalah 1, dan jika hasil penjumlahannya genap maka
hasil yang ditulis adalah 0 .
|
Penjumlahan
dimulai dari bit paling kanan. 1+1 hasilnya 2, maka ditulis 0 dibawah dan
bit di kirinya ditambah 1. Sehingga bit dikirinya menjadi 2+1, maka hasil
di bit kedua adalah 3-2 hasilnya 1 ditulis di bawah dan bit di kirinya
ditambah 1. Begitu seterusnya sampai ke bit terakhir.
|
10100112
| 1101112 + |
2.
Penjumlahan Bilangan Oktal
Penjumlahan dalam bilanga oktal sama seperti penjumlahan bilangan
desimal biasa. Penjumlahan bilangan oktal dimulai dari yang paling kanan.
Namun, dalam bilangan oktal tidak mengenal angka 8 dan 9, sehingga batas
tertinggi dalam bilangan oktal adalah 7.
Contohnya kita akan menjumlahkan nilai 578 dengan 238 maka
hasilnya adalah:
|
Batas maksimal pada bilangan oktal adalah 7, sehingga
deret bilangannya adalah 0,1,2,3,4,5,6,7,10,11,12,13,14,dst. Jadi caranya, pertama penjumlahan pada
bilangan oktal dimulai dari bit yang paling kanan sehingga 7+3 = 12
(7,0,1,2), kemudian tulis 2 dan tambah puluhannya ke bit sebelah kirinya,
sehingga (5+1)+2=0 (5,6,7,0) dan puluhannya di tambah ke bit dikirinya. Sehingga hasil dari 578 + 238 = 1028
|
578
|
23 8 +
|
3.
Penjumlahan Bilangan Heksadesimal
Penjumlahan bilangan heksadesimal juga mirip dengan penjumlahan desimal
biasa. Penjumlahan bilangan heksadesimal dimulai dari bit yang paling kanan.
Contohnya kita akan menjumlahkan nilai F3H+18H,
maka caranya adalah
|
Deret bilangan untuk heksadesimal
adalah 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F,10,11,12, 13,14,15,16,17,18,19,1A,1B,1C,1D,1E,1F,20,21,22,...,2E,2F,30,dst.
Pertama, jumlahkan dari bit yang
paling kanan sehingga 3+8=11 konversikan nilai 11 ke dalam heksadesimal
sehingga 3+8=B. Kemudian jumlahkan bit yang kedua F+1= , konversikan nilai
bilangan heksadesimal ke dalam nilai desimal biasa sehingga menjadi 15+1=16,
konversikan nilai desimal ke heksadesimal, menjadi 10. Maka hasilnya adalah
10BH
|
F3H
| 18H + |
10BH
B.
PENGURANGAN
1.
Pengurangan Bilangan Biner
Operasi pengurangan pada
bilangan biner sama seperti pengurangan biasa.
Contohnya
kita akan mengurangi 11012-1112, maka caranya adalah
1101
| 111 + |
110
2.
Pengurangan Bilangan Oktal
Proses operasi pengurangan pada bilangan oktal sama dengan proses
penjumlahannya. Dimana deret bilangan oktal dimulai dari 0 dan berakhir di 7.
Contohnya kita akan mengurangkan nilai 248 dengan 78,
maka caranya adalah
248
| 78 +
158
|
3.
Pengurangan Bilangan Heksadesimal
Proses pengurangan pada bilangan Heksadesimal juga memiliki kemiripan
dengan penjumlahannya. Proses pengurangannya juga sama dengan pengurangan
bilangan desimal biasanya. Yang membedakan hanyalah nilai maksimal dari deret
bilangan heksadesimal itu sendiri.
Misalnya kita akan menghitung nilai dari 401H-56H, maka caranya adalah
401H
| 56H +
3ABH
|
C.
NILAI NEGATIF
Sama seperti pada bilangan desimal, pada bilangan biner juga memiliki
nilai negatif. Ada dua cara untuk mengubah bilangan desimal negatif ke dalam
bentuk biner negatif. Yaitu
1.
One’s Complement
a.
Mengubah desimal negatif ke bentuk biner negatif
Contohnya kita akan mengubah
nilai -11 ke dalam bentuk biner, maka caranya adalah:
·
Ubah bentuk desimal 11 ke dalam biner dengan cara
biasa sehingga menjadi 1011
·
Balik bilangan biner tersebut (1 menjadi 0 &
0menjadi 1) sehingga menjadi 0100
·
Tambahkan “1” di ujung paling kiri pada bilangan
biner untuk menandakan nilai negatif, sehingga menjadi 10100
·
Maka bentuk biner negatif dari 11 dengan cara one’s
complement adalah 101002
b.
Mengubah biner negatif ke dalam desimal negatif
Contohnya kita akan mengubah nilai 101002 ke
dalam bentuk biner negatif, maka caranya adalah:
·
Abaikan angka 1 paling kiri sehingga menjadi 0100
·
Balik bilangan biner tersebut (1 menjadi 0 &
0menjadi 1) sehingga menjadi 1011
·
Ubah bilangan biner ke bentuk desimal dengan cara
biasa, sehingga menjadi 11
·
Tambah tanda negatif sehingga bentuk desmal negatif
dari 101002 adalah -11
2.
Two’s Complement
Contohnya kita akan mengubah
nilai -11 ke dalam bentuk biner negatif, maka caranya adalah
·
Ubah bentuk desimal 11 ke dalam biner dengan cara
biasa sehingga menjadi 1011
·
Balik bilangan biner tersebut (1 menjadi 0 &
0menjadi 1) sehingga menjadi 0100
·
Ubah nilai biner ke dalam nilai desimal sehingga
menjadi 4
·
Tambahkan nilai satu ke dalam nilai biner, sehingga
menjadi 5 (dari 4+1)
·
Ubah hasilnya ke dalam biner, sehingga menjadi 0101
·
Tambahkan “1” di ujung paling kiri pada bilangan
biner untuk menandakan nilai negatif, sehingga menjadi 10101
·
Maka bentuk biner negatif dari -11 dengan cara
two’s complement adalah 101012
3.
Cara cepat Two’s Complement
Contohnya kita akan mengubah
nilai -11 ke dalam bentuk biner negatif, caranya adalah
·
Ubah bentuk desimal 11 ke dalam biner dengan cara
biasa sehingga menjadi 1011
·
Balik bilangan biner tersebut (1 menjadi 0 &
0menjadi 1) angka satu paling kanan dan bit di sebelahnya (Contohnya jika
1010100 maka hasil kebalikannya adalah 0101100) sehingga hasil balik dari 1011
adalah 0101
·
Tambahkan “1” di ujung paling kiri pada bilangan
biner untuk menandakan nilai negatif, sehingga menjadi 101012
D.
BILANGAN PECAHAN
A.
Bilangan Biner
Bentuk pecahan pada bilangan
biner sama seperti bentuk pecahan bilangan biasa. Bentuk pecahan pada bilangan
biner dipisahkan oleh tanda titik. Contohnya 101.012. Cara mengubah
bentuk pecahan bilangan biner ke bentuk pecahan desimal adalah
Ubah bentuk biner pada bagian
kiri titik pemisah ke dalam bentuk desimal dengan cara seperti biasa. Dan pada
bagian kanan titik pemisah kalikan bit dimulai dari yang paling dekat dengan
titik pemisah dengan 2-1, 2-2, 2-3, 2-4,
dan seterusnya. Contohnya kita akan mengubah bentuk pecahan biner 101.012
ke bentuk pecahan desimal, maka
101.01
Bagian kiri Bagian Kanan
1x22 + 0x21
+ 1x20 0x2-1 + 1x2-2
4 + 0 + 1 0 + 1x1/22
5 ¼
5
0.25
= 5 + 0,25
= 5,25
Jadi nilai pecahan desimal dari pecahan biner
101.01 adalah 5,25
B.
Bilangan Oktal
Sama seperti bentuk pecahan
pada bilangan biner, bentuk pecahan pada bilangan oktal juga memiliki bentuk
yang sama yaitu dipisahkan oleh tanda titik. Contohnya 23.4 8. Cara
mengubah bentuk pecahan bilangan oktal
ke bentuk pecahan desimal adalah
Ubah bentuk oktal pada bagian
kiri titik pemisah ke dalam bentuk desimal dengan cara seperti biasa. Dan pada
bagian kanan titik pemisah kalikan bit dimulai dari yang paling dekat dengan
titik pemisah dengan 8-1, 8-2, 8-3, 8-4,
dan seterusnya. Contohnya kita akan mengubah bentuk pecahan oktal 23.4 8
ke bentuk pecahan desimal, maka
23.4
8
Bagian kiri Bagian kanan
2x81
+ 3x80 4x8-1
16+3 4x1/8
19 4/8
19 0,5
= 19+0.5
= 19,5
Jadi nilai pecahan desimal dari pecahan biner 23.4 8 adalah
19,5
C.
Bilangan Heksadesimal
Sama seperti bentuk pecahan
pada bilangan biner dan oktal, bentuk pecahan pada bilangan heksadesimal juga
memiliki bentuk yang sama yaitu dipisahkan oleh tanda titik. Contohnya FA.I H. Cara mengubah bentuk
pecahan bilangan Heksadesimal ke bentuk
pecahan desimal adalah
Ubah bentuk Heksadesimal pada
bagian kiri titik pemisah ke dalam bentuk desimal dengan cara seperti biasa.
Dan pada bagian kanan titik pemisah kalikan bit dimulai dari yang paling dekat
dengan titik pemisah dengan 16-1, 16-2, 16-3,
16-4, dan seterusnya. Contohnya kita akan mengubah bentuk pecahan
oktal FA.I H ke bentuk
pecahan desimal, maka
FA.1
H
Bagian kiri Bagian kanan
15x161 +
10x160 1x16-1
240 + 10
1x1/16
250 0,0625
=250 + 0.0625
=250 ,0625
Jadi nilai pecahan desimal
dari pecahan biner FA.1 H adalah 250,0625
GERBANG LOGIKA
Sebuah
gerbang logika (logic gate) merupakan dasar dari sebuah rangkaian digital.
Kebanyakan gerbang logika memiliki dua buah input dan sebuah output. Tiap
terminal hanya memiliki satu kondisi saja pada satu waktu, apakah itu kondisi
low 0, atau high 1. Tidak ada terminal digital dengan dua kondisi pada satu
waktu yang bersamaan. Pada kebanyakan gerbang logika TTL, kondisi low memiliki
tegangan kurang lebih 0 volt. Sedangkan pada kondisi high, tegangannya sekitar
+5 volt.
Terdapat tujuh buah gerbang logika dasar yakni: AND, OR, XOR, NOT, NAND, NOR, dan XNOR.
Gerbang Logika AND
Kondisi output gerbang AND akan bernilai high hanya jika kedua input bernilai high. Selain itu akan bernilai low.
Gerbang Logika OR
Kondisi output gerbang OR akan bernilai high jika ada salah satu atau semua input bernilai high. Bila kedua input bernilai low maka output juga akan bernilai low.
Gerbang Logika XOR
Kondisi output gerbang XOR (Exclusive-OR) akan bernilai high jika hanya salah satu input saja yang bernilai high. Bila kedua input bernilai sama maka output akan bernilai low.
Gerbang Logika NOT
Gerbang logika NOT merupakan gerbang logika kebalikan (inverse). Kondisi output akan bernilai high saat input bernilai low. Sebaliknya, saat input bernilai high output akan bernilai low.
Gerbang Logika NAND
Gerbang logika NAND (Not-AND) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari AND. Kondisi output akan bernilai low hanya saat semua input bernilai high. Selain itu output akan bernilai high.
Gerbang Logika NOR
Gerbang logika NOR (Not-OR) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari OR. Kondisi output akan bernilai high hanya saat semua input bernilai low. Selain itu output akan bernilai low.
Gerbang Logika XNOR
Gerbang logika XNOR (Exclusive-Not-OR) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari XOR. Kondisi output akan bernilai high hanya saat semua input bernilai sama (high atau low), selain itu bila nilai input berbeda output akan bernilai low.
Terdapat tujuh buah gerbang logika dasar yakni: AND, OR, XOR, NOT, NAND, NOR, dan XNOR.
Gerbang Logika AND
Kondisi output gerbang AND akan bernilai high hanya jika kedua input bernilai high. Selain itu akan bernilai low.
Gerbang Logika OR
Kondisi output gerbang OR akan bernilai high jika ada salah satu atau semua input bernilai high. Bila kedua input bernilai low maka output juga akan bernilai low.
Gerbang Logika XOR
Kondisi output gerbang XOR (Exclusive-OR) akan bernilai high jika hanya salah satu input saja yang bernilai high. Bila kedua input bernilai sama maka output akan bernilai low.
Gerbang Logika NOT
Gerbang logika NOT merupakan gerbang logika kebalikan (inverse). Kondisi output akan bernilai high saat input bernilai low. Sebaliknya, saat input bernilai high output akan bernilai low.
Gerbang Logika NAND
Gerbang logika NAND (Not-AND) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari AND. Kondisi output akan bernilai low hanya saat semua input bernilai high. Selain itu output akan bernilai high.
Gerbang Logika NOR
Gerbang logika NOR (Not-OR) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari OR. Kondisi output akan bernilai high hanya saat semua input bernilai low. Selain itu output akan bernilai low.
Gerbang Logika XNOR
Gerbang logika XNOR (Exclusive-Not-OR) merupakan gerbang logika kebalikan (inverse) dari XOR. Kondisi output akan bernilai high hanya saat semua input bernilai sama (high atau low), selain itu bila nilai input berbeda output akan bernilai low.
Penyederhanaan rangkaian digital bertujuan untuk
mengubah suatu ekspresi logika yang rumit menjadi lebih ringkas, tanpa
mengurangi dan mengubah hasil output. Ekspresi logika yang lebih sederhana bisa
diimplementasikan dengan menggunakan rangkaian yang sederhana dan lebih kecil.
Dengan demikian dapat menghemat biaya, tenaga, dan ruang untuk penggunaan
gerbang logika yang tidak perlu.Salah satu cara untuk mengurangi ekspresi
logika adalah dengan menggunakan Boolean Aljabar. Aturan Boolean Aljabar cukup
sederhana dan bisa diaplikasikan dalam berbagai ekspresi logika. Hasil
penyederhanan ekspresi logika bisa langsung diuji dengan tabel kebenaran untuk
mendapat hasil yang valid.
Berikut ini adalah aturan Boolean Aljabar:
Berikut ini adalah aturan Boolean Aljabar:
0·0 = 0 A·0 = 0
1·0 = 0 A·1 = A
0·1 = 0 A·A = A
1·1 = 1 A·A' = 0
Operasi OR (+)
0+0 = 0 A+0 = A
1+0 = 1 A+1 = 1
0+1 = 1 A+A = A
1+1 = 1 A+A' = 1
Operasi NOT (')
0' = 1 A'' = A
1' = 0
Hukum Asosiatif
(A·B)·C = A·(B·C) = A·B·C
(A+B)+C = A+(B+C) = A+B+C
|
Hukum
Distribuf
A·(B+C) = (A·B) + (A·C) A+(B·C) = (A+B) · (A+C) Hukum Komutatif A·B = B·A A+B = B+A Presedensi AB = A·B A·B+C = (A·B) + C A+B·C = A + (B·C) Teorema DeMorgan (A·B)' = A' + B' (NAND) (A+B)' = A' · B' (NOR) |
sumber:
lang8088.blogspot.com
catatan pribadi